Sabtu, 11 Agustus 2018

Punya bakat atau nggak, sih?

Hai, semuanya!! Gue balik lagi setelah sekian lama gue nggak nulis di blog. Di postingan yang ini, gue cuma mau sedikit sharing aja sih tentang bakat, atau mungkin berbagi pencerahan yang gue dapat selama masa libur panjang  gue sama kalian semua. Tergantung dari perspektif mana kalian mandang tulisan gue ini. Nah, jadi, langsung aja deh ya baca di bawah ini..


Pernah nggak, sih, kalo lo itu ngerasa atau bahkan pernah berpikir kayak gini, “Gue ini sebenernya punya bakat apa nggak, sih? Disuruh nyanyi, suara gue tuh, aduh, pas-pasan.. gue bahkan bisa jamin kalo penyanyi selevel Raisa apalagi Selena Gomez pasti bakal takjub terus nggak lama setelah itu mereka pingsan diiringi kaca-kaca yang pecah secara dramatis. Terus, disuruh nari atau dance, beuh, Hyoyeon yang katanya Dancing Queen  aja pasti kalah sama gue, iya, lo bener, gerakan gue tuh sekaku itu. Bahkan gue rasa, gerakan yang dilakukan oleh robot pun lebih baik daripada gue. Terus, apa lagi, ya.. hmm melukis? musik? bikin puisi dan sejenisnya? maka jawabannya adalah, nggak juga. Sama aja kayak yang lainnya, pas-pasan. Atau mungkin, nggak bisa sama sekali?”. But, Who knows, kita nggak tau. Okeh, baik teman-temanku sekalian, Let’s back to topic.

Dan, ya. Gue juga pernah mikir kayak gitu—bahkan sering banget. Bertanya-tanya dalam hati, “Apa, sih, bakat gue? Suara gue standar ; bikin puisi stuck mulu ; coba bikin cerita seenggaknya cerpen, nggak nemu-nemu idenya. Padahal gue udah coba keliling rumah, sekolah, sampai kota tempat gue tinggal, idenya nggak berminat sedikitpun buat mampir barang semenit dipikiran gue. Jadinya apa, sih, yang bisa gue lakuin—diluar hal-hal dasar bertahan hidup seperti makan, tidur, dan teman-temannya?” Dan kemudian, gue teringat sama kata-kata  yang pernah gue dengar,”Hidup itu pilihan. Mau jadi apa kamu kedepannya, itu tergantung dari pilihan apa yang kamu pilih dari sekian banyak pilihan yang tersedia”.

 Sejak saat itu, kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran gue. Gue pun mulai merenungi dan memahami secara mendalam makna dari kata-kata itu—etdahh bahasa gue. And, yupz! Setelah gue memahami dan menghubung-hubungkan dengan pertanyaan yang mengganjal pikiran gue, akhirnya gue menemukan jawabannya dan mungkin beserta solusinya. Bahwasanya wahai teman-temanku sekalian, untuk menemukan sesuatu yang disebut sebagai bakat, kita harus senantiasa mencoba apapun yang memiliki kemungkinan bisa kita kuasai. Lalu, kita coba latih hal tadi secara konsisten. Karena apa? Pada dasarnya setiap manusia memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal tersebut. Hanya saja, pada kemampuan-kemampuan tadi, ada yang begitu menonjol­—dalam artian paling dikuasai—dan ada pula yang tidak. Semuanya tergantung dari diri kita sendiri. Apakah memilih untuk mencoba dan melatih diri atau tidak mencoba sama sekali dan membiarkan diri lo sendiri terpuruk karena merasa nggak berguna? Dan jawabannya, hanya diri lo sendiri yang tahu.

Kenapa gue bilang gitu? Karena ini berdasarkan pengalaman gue sendiri. Gue pernah ngerasa nggak punya bakat sama sekali, nggak berguna, pesimis akut, dan hal-hal negatif lainnya sampai membuat diri gue merasa frustasi dan mungkin mendekati depresi—tapi syukurnya gue nggak sampai depresi karena akal sehat gue masih senantiasa berjalan. Hingga gue teringat akan kata-kata di atas tadi dan juga sebuah kalimat sekaligus judul yang gue temukan di sebuah buku karya Cahyo Satrio Wijaya, “You Are What You Think, You Are What You Believe”. 

You are what you think, Anda adalah apa yang Anda pikirkan. Maka, apa yang anda pikirkan, itulah yang akan terjadi. You are what you believe, Anda adalah apa yang Anda percayai. Oleh karena itu, kalau yang kita tanamkan ke dalam pikiran kita setiap hari adalah hal-hal negatif, maka dampaknya akan destruktif atau merusak. Sebaliknya, kalau yang kita tanamkan ke dalam pikiran adalah hal-hal yang baik dan positif, tentu dampak dalam kehidupan kita akan menjadi positif dan konstruktif.
Jika Anda terus berpikir tentang sukses dan membangun kepercayaan diri, Anda akan merasa kuat dan kompeten, kemudian Anda akan melakukan yang terbaik. Sebaliknya, jika Anda berpikir  tentang takut berbuat salah dan minder, Anda akan melakukan hal yang buruk walaupun sebenarnya Anda bisa melakukan itu dengan baik.
Lawan terberat dalam diri manusia adalah dirinya sendiri, yaitu pikiran dan perasaannya. Gagal atau berhasil tergantung bisa atau tidak dia menaklukkan pikirannya. Misalkan, seseorang yang hidupnya gagal, berarti dirinya dikalahkan oleh pikirannya sendiri. Akar dari sebuah permasalahan sebenarnya datang dari diri kita sendiri. Maka dari itu, pilihlah sesuatu yang baik untuk kehidupan Anda. Pikiran positif-lah yang menjadi pemeran utama dalam segala hal untuk dapat meraih sebuah kebahagiaan hidup.

Tiga paragraf diatas terdapat pada kata pengantar buku tadi, dan itu benar-benar menusuk pikiran gue. Ya, karena berpikir bahwa diri sendiri tidak berguna dan hal pesimistis lainnya adalah hal yang menyebabkan kita terjebak dan nggak mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya bisa kita lakukan.

Juga, seperti yang sudah gue paparkan sebelumnya, cobalah sesuatu hal dan latih hingga kalian ngerasa—secara kasarnya—mampus.

Seperti binaragawan, teruslah berlatih sampai kamu merasa otot-ototmu nyaris robek. Tapi ingatlah, bahwa setelah otot-otot tersebut tersambung kembali, ia akan menjadi otot yang lebih kuat daripada sebelumnya.

Jadi, sekian dulu yang gue sampaikan. Gue berharap dari tulisan ini, seenggaknya ada hal yang bisa kalian dapatkan. Gue juga mohon maaf kalau ada salah kata dalam cara penyampaian ini, juga karena—mungkin—kalimat-kalimat ini menurut kalian terasa berlebihan atau terlalu berbelit-belit dalam hal pengandaian yang gue buat.

Biar ada sweet-sweetnya, gue mau bilang..  Teruntuk kamu, iya, kamu.. :) yang udah baca tulisan ini, aku ucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Mohon kritik dan sarannya jika ada yang kurang dari tulisan ini. Jikalau ada dari kalian yang kurang mengerti bisa langsung komentar di postingan ini.

Thank You!!!
:*
See you on the next post!!!