Hai, semuanya!! Gue balik lagi setelah sekian lama gue nggak nulis di blog. Di postingan yang ini, gue cuma mau sedikit sharing aja sih tentang bakat, atau mungkin berbagi pencerahan yang gue dapat selama masa libur panjang gue sama kalian semua. Tergantung dari perspektif mana kalian mandang tulisan gue ini. Nah, jadi, langsung aja deh ya baca di bawah ini..
Pernah nggak,
sih, kalo lo itu ngerasa atau bahkan pernah berpikir kayak gini, “Gue ini
sebenernya punya bakat apa nggak, sih? Disuruh nyanyi, suara gue tuh, aduh,
pas-pasan.. gue bahkan bisa jamin kalo penyanyi selevel Raisa apalagi Selena
Gomez pasti bakal takjub terus nggak lama setelah itu mereka pingsan diiringi
kaca-kaca yang pecah secara dramatis. Terus, disuruh nari atau dance, beuh,
Hyoyeon yang katanya Dancing Queen aja pasti kalah sama gue, iya, lo bener,
gerakan gue tuh sekaku itu. Bahkan gue rasa, gerakan yang dilakukan oleh robot
pun lebih baik daripada gue. Terus, apa lagi, ya.. hmm melukis? musik? bikin
puisi dan sejenisnya? maka jawabannya adalah, nggak juga. Sama aja kayak yang
lainnya, pas-pasan. Atau mungkin, nggak bisa sama sekali?”. But, Who knows,
kita nggak tau. Okeh, baik teman-temanku sekalian, Let’s back to topic.
Dan, ya. Gue
juga pernah mikir kayak gitu—bahkan sering banget. Bertanya-tanya dalam hati,
“Apa, sih, bakat gue? Suara gue standar ; bikin puisi stuck mulu ; coba bikin cerita seenggaknya cerpen, nggak nemu-nemu
idenya. Padahal gue udah coba keliling rumah, sekolah, sampai kota tempat gue
tinggal, idenya nggak berminat sedikitpun buat mampir barang semenit dipikiran
gue. Jadinya apa, sih, yang bisa gue lakuin—diluar hal-hal dasar bertahan hidup
seperti makan, tidur, dan teman-temannya?” Dan kemudian, gue teringat sama
kata-kata yang pernah gue dengar,”Hidup itu pilihan. Mau jadi apa kamu
kedepannya, itu tergantung dari pilihan apa yang kamu pilih dari sekian banyak
pilihan yang tersedia”.
Sejak saat itu, kata-kata itu terus terngiang dalam
pikiran gue. Gue pun mulai merenungi dan memahami secara mendalam makna dari kata-kata
itu—etdahh bahasa gue. And, yupz!
Setelah gue memahami dan menghubung-hubungkan dengan pertanyaan yang mengganjal
pikiran gue, akhirnya gue menemukan jawabannya dan mungkin beserta solusinya. Bahwasanya
wahai teman-temanku sekalian, untuk menemukan sesuatu yang disebut sebagai
bakat, kita harus senantiasa mencoba apapun yang memiliki kemungkinan bisa kita
kuasai. Lalu, kita coba latih hal tadi secara konsisten. Karena apa? Pada
dasarnya setiap manusia memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal tersebut.
Hanya saja, pada kemampuan-kemampuan tadi, ada yang begitu menonjol—dalam
artian paling dikuasai—dan ada pula yang tidak. Semuanya tergantung dari diri
kita sendiri. Apakah memilih untuk mencoba dan melatih diri atau tidak mencoba
sama sekali dan membiarkan diri lo sendiri terpuruk karena merasa nggak
berguna? Dan jawabannya, hanya diri lo sendiri yang tahu.
Kenapa gue
bilang gitu? Karena ini berdasarkan pengalaman gue sendiri. Gue pernah ngerasa
nggak punya bakat sama sekali, nggak berguna, pesimis akut, dan hal-hal negatif
lainnya sampai membuat diri gue merasa frustasi dan mungkin mendekati
depresi—tapi syukurnya gue nggak sampai depresi karena akal sehat gue masih
senantiasa berjalan. Hingga gue teringat akan kata-kata di atas tadi dan juga sebuah
kalimat sekaligus judul yang gue temukan di sebuah buku karya Cahyo Satrio
Wijaya, “You Are What You Think, You Are What You Believe”.
You are what you think, Anda adalah apa yang Anda
pikirkan. Maka, apa yang anda pikirkan, itulah yang akan terjadi. You are what
you believe, Anda adalah apa yang Anda percayai. Oleh karena itu, kalau yang
kita tanamkan ke dalam pikiran kita setiap hari adalah hal-hal negatif, maka
dampaknya akan destruktif atau merusak. Sebaliknya, kalau yang kita tanamkan ke
dalam pikiran adalah hal-hal yang baik dan positif, tentu dampak dalam
kehidupan kita akan menjadi positif dan konstruktif.
Jika Anda terus berpikir tentang sukses dan
membangun kepercayaan diri, Anda akan merasa kuat dan kompeten, kemudian Anda
akan melakukan yang terbaik. Sebaliknya, jika Anda berpikir tentang takut berbuat salah dan minder, Anda
akan melakukan hal yang buruk walaupun sebenarnya Anda bisa melakukan itu
dengan baik.
Lawan terberat dalam diri manusia adalah dirinya
sendiri, yaitu pikiran dan perasaannya. Gagal atau berhasil tergantung bisa
atau tidak dia menaklukkan pikirannya. Misalkan, seseorang yang hidupnya gagal,
berarti dirinya dikalahkan oleh pikirannya sendiri. Akar dari sebuah
permasalahan sebenarnya datang dari diri kita sendiri. Maka dari itu, pilihlah sesuatu
yang baik untuk kehidupan Anda. Pikiran positif-lah yang menjadi pemeran utama
dalam segala hal untuk dapat meraih sebuah kebahagiaan hidup.
Tiga paragraf
diatas terdapat pada kata pengantar buku tadi, dan itu benar-benar menusuk
pikiran gue. Ya, karena berpikir bahwa diri sendiri tidak berguna dan hal
pesimistis lainnya adalah hal yang menyebabkan kita terjebak dan nggak mencoba
mencari tahu apa yang sebenarnya bisa kita lakukan.
Juga, seperti
yang sudah gue paparkan sebelumnya, cobalah sesuatu hal dan latih hingga kalian
ngerasa—secara kasarnya—mampus.
Seperti binaragawan, teruslah berlatih sampai kamu
merasa otot-ototmu nyaris robek. Tapi ingatlah, bahwa setelah otot-otot
tersebut tersambung kembali, ia akan menjadi otot yang lebih kuat daripada
sebelumnya.
Jadi, sekian
dulu yang gue sampaikan. Gue berharap dari tulisan ini, seenggaknya ada hal
yang bisa kalian dapatkan. Gue juga mohon maaf kalau ada salah kata dalam cara
penyampaian ini, juga karena—mungkin—kalimat-kalimat ini menurut kalian terasa
berlebihan atau terlalu berbelit-belit dalam hal pengandaian yang gue buat.
Biar ada sweet-sweetnya, gue mau bilang.. Teruntuk
kamu, iya, kamu.. :) yang udah baca tulisan ini, aku ucapin terima kasih yang
sebanyak-banyaknya. Mohon kritik dan sarannya jika ada yang kurang dari tulisan
ini. Jikalau ada dari kalian yang kurang mengerti bisa langsung komentar di
postingan ini.
Thank You!!!
:*
See you on the next post!!!
